Saya Ekspresikan Kecintaan Musik Tradisi Lewat karya“Bunyi Sembunyi”

Luqmanul Chakim, seorang produser musik asal Wonosobo ingin membawa musik tradisional ke dunia anak muda. Dimulai dari petualangan Luqman sebagai etnomusikolog ke berbagai daerah di Indonesia hingga pelosok desa untuk mendokumentasikan, meneliti, dan menyusun karya karya baru, menuntunnya pada pengalaman-pengalaman yang layak dibagikan pada generasinya. Hingga akhirnya Luqman mengangkat alat musik asal Wonosobo bernama bundengan dan berkolaborasi dengan banyak musisi Indonesia hingga tampil di luarnegeri seperti Australia.

“Saya telah mementaskan musik Bundengan di Australia bersama para musisi lokal pada 2018. Belum lama ini saya juga meneliti berbagai musik tradisi di berbagai daerah seperti gule gending dari lombok, bindeng dari Wonosobo, jemblung dari Banyumas, yang harapannya bisa saya kenalkan ke anak-anak muda, tentunya lewat karya yang ramah di telinga mereka,” ungkap lulusan ISI Surakarta yang juga berkesempatan berkuliah di Thammasat University Thailand pada 2014-2015 lalu.

Beberapa karyanya tertuang dalam komposisi musik yang ditampilkan di beberapa event termasuk What is Bundengan (2018-2019), arranger 7 lagu daerah di ulang tahun Gramedia ke-50, hingga akhirnya menggandeng para musisi lokal Wonosobo dalam sebuah karya bertajuk Bunyi Sembunyi (2020). Sebelumnya, kolaborasi bersama para musisi muda Wonosobo tertuang dalam aransemen Lir-ilir yang memadukan alat musik bundengan, gamelan, beat box dan EDM. Dalam kesehariannya, Luqman aktif memperkenalkan musik tradisional Indonesia baik di dalam maupun luar negeri, lewat karya-karya yang ia garap dan ia unggah lewat media sosial.

“Lagu Bunyi Sembunyi ini adalah sebuah ekspresi kekhawatiran atas tren saat ini. Bahwa musik tradisional yang mulai dilupakan oleh generasi muda. Project ini juga membawa sebuah pesan ajakan untuk berinovasi membuat karya yang berakar dari lingkungan sekitar kita,” kata pemuda yang menginisiasi Woohoo Artspace itu.

Bunyi Sembunyi dikatakan Luqman terinspirasi dari kondisi saat ini, yaitu keberadaan alat musik tradisional yang kondisinya semakin hari semakin berkurang pendengarnya. Bahkan ketika observasi kesenian jemblung di Banyumas, luqman dan timnya sempat kesulitan dalam mencari kelompok yang masih setia melestarikannya. Sekalipun ketemu, para personilnya tergolong sudah tua.

“Semoga di masa mendatang ada generasi yang bisa meneruskan keberlangsungan kesenian khas seperti Jemblung ini. Karena bagi saya, kesenian ini mempunyai keunikan hampir mirip Kecak, dimana Gamelan atau Calung dimainkan menggunakan mulut. Bisa dikatakan ini seperti Beat Box yang meniru berbagai alat musik dengan mulut, jangan sampai ini punah,” kata Luq yang tengah menggarap sebuah karya bareng Sarah Saputri untuk brand asal Jerman, Seydel.

LUQ di Mentoring HP Indonesia bersama Eka Gustiwana

LUQ mengajak generasi muda untuk melestarikan dan melahirkan sesuatu yang baru dari musik tradisi. Dalam penggarapan Bunyi Sembunyi, juga melibatkan Produser dari lagu Lathi, Eka Gustiwana yang kebetulan menjadi mentor Luqman di HP (Hewlett Packard) Mentoring Project. Di event itu, Luqman mendapat juara 1 dan berkesempatan memproduksi karya yang seluruhnya dibiayai oleh HP. Walaupun bekerja secara terpisah di masa Work From Home, namun Luqman dan Eka bisa intens berkomunikasi. Mulai dari ide awal, proses rekaman, editing, hingga finishing lagunya.

Tak lama lagi, Bunyi Sembunyi akan dirilis di beberapa media termasuk Youtube, Spotify, dan berbagai platform online lainnya. Rencananya, Bunyi Sembunyi juga akan didistribusikan lewat jaringan stasiun Radio di Indonesia. berbagai karya Luqman juga bisa ditengok lewat instagramnya di @LukmanJRD. Sementara, sampel musik Bunyi Sembunyi bisa dibuka di halaman Relase karya.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai